Wednesday, June 27, 2012

SERANGAN JANTUNG PADA MANUSIA


SERANGAN JANTUNG

Seperti pembuluh darah lainnya, pembuluh nadi koroner mempunyai permukaan dalam yang rata dan licin, yang mencegah terjadinya gangguan aliran darah dan pembekuan darah dalam pembuluh-pembuluh darah tersebut. Pada PJK terjadi perubahan-perubahan pada dinding pembuluh nadi koroner, yang dapat terjadi akibat peradangan atau pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis). Ini merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner.
Proses aterosklerosis terjadi pada berbagai pembuluh darah dalam tubuh manusia sepanjang perjalanan hidupnya dan dapat mulai terbentuk pada usia muda. Proses ini terjadi akibat penyusupan lemak yang ada di dalam darah ke dalam dinding pembuluh dan berjalan terus tanpa gejala sampai terjadi penyempitan yang cukup nyata, yang mengganggu aliran darah ke daerah tersebut. Penyumbatan darah total akan menyebabkan kerusakan dan kematian jaringan yang terhenti suplai darahnya.
Seperti yang sudah dijelaskan dalam bahasan sebelumnya, pada proses aterosklerosis yang terjadi pada pembuluh nadi koroner, aliran darah koroner masih normal, sekalipun sudah terjadi penyempitan sebanyak 50% dari diameter normal, dan yang bersangkutan tidak menunjukkan gejala atau keluhan apapun. Kecepatan penyempitan ini bergantung dari berbagai faktor resiko (antara lain umur, jenis kelamin, tekanan darah tinggi, lemak darah tinggi, merokok, diabetes).
Pada penyempitan pembuluh darah koroner yang lebih berat, aliran darah koroner dalam keadaan istirahat mungkin masih dapat mencukupi kebutuhan otot jantung. Akan tetapi, apabila yang bersangkutan melakukan suatu kegiatan (misalnya lari), kebutuhan otot jantung akan oksigen dan zat makanan akan meningkat, yang tidak dapat dipenuhi oleh aliran darah dalam pembuluh koroner yang menyempit tadi. Pada keadaan ini mulai timbul gejala-gejala PJK. Kebutuhan akan darah yang tidak terpenuhi menyebabkan otot jantung kekurangan darah (iskemi), sedangkan penyumbatan total pembuluh nadi koroner akan menyebabkan kerusakan dan kematian jaringan otot jantung (infark miokard).
Walaupun tidak selalu jelas, faktor pencetus infark miokard pada seseorang yang sudah mempunyai penyempitan pembuluh nadi koroner adalah keadaan-keadaan yang meningkatkan kebutuhan oksigen otot jantung, misalnya aktivitas fisik berat dan stress. Di samping itu mungkin saja serangan jantung terjadi pada saat istirahat.
Pada saat terjadi serangan jantung, keluhan yang khas adalah nyeri dada seperti pada angina pectoris, tetapi lebih berat. Keluhan ini berlangsung lebih dari 30 menit sampai berjam-jam, tidak hilang dengan istirahat, dikerik, atau makan obat. Pada sebagian penderita, serangan jantung terjadi tanpa gejala (15 – 20% penderita). Sebagian besar terjadi pada jam-jam pertama serangan jantung. Pada sebagian penderita lagi terjadi kematian mendadak.


 

Pada penderita dengan gejala serangan jantung yang khas, diagnosa tidaklah sukar. Kecurigaan yang kuat akan adanya serangan jantung, dimana penderita sendiri merasakan suatu keadaan yang berat dan mengkhawatirkan akan menyebabkan yang bersangkutan dengan segera berobat ke rumah sakit.
Pada kasus gejala serangan jantung yang tidak berat atau tidak khas (misalnya rasa pegal di dada, di lengan, atau punggung, mual, kembung, berkeringat banyak), secara umum sering disalah artikan oleh masyarakat kita sebagai gejala “masuk angin” sehingga penderita tidak memeriksakan dirinya.
Serangan jantung merupakan keadaan gawat darurat jantung sehingga perlu mendapatkan perawatan segera ke rumah sakit. Saat-saat dini serangan jantung dapat merupakan periode yang rawan karena kemungkinan terjadinya penyulit yang berbahaya. Keterangan diperlukan pada saat ini karena kecemasan dan kegelisahan akan meningkatkan fatal jantung dan meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan irama jantung yang berbahaya.
Gejala yang khas tidak merupakan masalah dalam mengenali terjadinya suatu serangan jantung. Pada penderita dengan gejala-gejala yang tidak khas harus dipastikan dengan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan adanya serangan jantung pada khususnya, atau penyakit jantung koroner pada umumnya.
Pengenalan dan prinsip dasar penanganan serangan jantung sebaiknya diketahui masyarakat agar dapat membantu penderita yang sedang mengalami serangan jantung.





Penatalaksanaan Serangan Jantung

Faktor waktu merupakan hal yang sangat penting dalam menangani serangan jantung. Penyulit-penyulit yang berbahaya sering terjadi pada jam-jam pertama setelah timbulnya gejala. Penanganan serangan jantung dalam fase sangat dini bertujuan untuk membatasi luas kerusakan akibat infark miokard, yang akan memperbaiki keadaan penderita dalam jangka pendek maupun masa depan yang panjang.

A.     Penatalaksanaan Pra-rawat
Sebagian besar masalah yang berbahaya dapat terjadi pada jam pertama setelah timbulnya gejala. Dengan demikian, perlu ditekankan pentingnya segera pergi ke rumah sakit agar segera mendapatkan pengobatan yang tepat.


B.     Sikap terhadap serangan jantung
Bila terjadi gejala serangan jantung, penderita harus segera mencari pertolongan medis. Pada penderita yang pernah mengalami infark atau penderita dengan angina pectoris, pengenalan gejala ini biasanya tidak akan sulit. Hal ini akan sukar apabila serangan jantung merupakan manifestasi pertama penyakit jantung koroner bagi penderita tersebut. Karena itu, penderita harus segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani pengobatannya.
Penanganan emosi penderita (dan keluarganya) perlu diperhatikan. Pada saat nyeri dada berlangsung, penderita dapat merasakan kecemasan dan kegelisahan karena mengetahui adanya masalah yang serius pada jantungnya. Keadaan ini akan menambah kemungkinan terjadinya gangguan irama denyut jantung yang berbahaya. Untuk jangka panjang dalam rehabilitasi penderita setelah serangan jantung, hal ini perlu ditangani tersendiri. Biasanya penderita melalui fase-fase reaksi emosi terhadap suatu penyakit, seperti penyangkalan adanya suatu penyakit, penerimaan adanya penyakit yang diikuti dengan keinginan berontak, rasa cemas, kebergantungan, rasa “minder”, frustasi, depresi, dan akhirnya penyesuaian ralita terhadap penyakit yang diderita.

C.     Jantung berhenti berdenyut
Permasalahan serangan yang paling berbahaya adalah terjadinya gangguan irama jantung yang fatal, yaitu jantung secara mendadak berhenti dalam melakukan fungsinya memompa darah, secara penuh atau hampir penuh. Penderita tiba-tiba kehilangan kesadaran karena otak yang sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen akan mengalami kelumpuhan 8-20 detik setelah darah berhenti mengalir. Bila peredaran dara tidak dapat dikembalikan dalam 4-6 menit, akan terjadi kerusakan sel-sel otak yang disusul dengan sel-sel organ lainnya, dan penderita meninggal. Untuk dapat mengatasi keadaan ini diperlukan tenaga terlatih yang tidak perlu dari kalangan medis. Bantuan kehidupan dasar merupakan hal yang pertama-tama harus dilakukan, yaitu berupa :

  1. Airway
Artinya pembebasan saluran pernapasan

  1. Breathing
Artinya pernapasan, dengan memberi pernapasan buatan, dan

  1. Circulation
Artinya mengusahakan peredaran (sirkulasi) darah dengan melakukan pijat (massage) jantung.

Bantuan dasar ini harus segera diikuti dengan bantuan lanjut oleh tenaga medis yang terlatih, berupa pengobatan kejutan listrik dan pengobatan medis lainnya.
Hal yang lebih penting bagi masyarakat luas adalah pencegahan terjadinya penyakit jantung koroner. Kebiasaan sehari-hari yang menjadikan atau meningkatkan kemungkinan terjadinya faktor resiko penyakit jantung koroner haruslah dihindarkan. Hal ini juga berlaku bagi anggota masyarakat yang sudah mengidap PJK, untuk mencegah perkembangan PJK lebih lanjut. Usaha masyarakat yang terpadu untuk mengatasi hal ini (kampanye anti rokok, penyuluhan tentang diet dan hidup sehat, olahraga jantung sehat) diharapkan akan menurunkan kejadian serangan jantung pada khususnya dan penyakit jantung koroner pada umumnya.

No comments:

AksenClix BBcode:

Click Get Money